Merauke | PA Merauke (3/4)

Boven Digoel (ibukota : Tanah Merah), sebuah nama kota yang mungkin masih asing bagi kita, ya seperti itulah namanya, berada di ujung timur Indonesia merupakan pemekaran dari kabupaten Merauke berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002. 

Kota yang nyaris terlupakan, ternyata menyimpan situs sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia pada jaman dahulu atau lebih akrab dikenal dengan salah satu kamp pengasingan (penjara) yang mengerikan dibangun pada tahun 1927 oleh pemerintah kolonial Belanda dan pada tahun 1935-1936 tokoh-tokoh pergerakan nasional, seperti Bung Hatta dan Sutan Syahrir menjadi 2 (dua) dari puluhan pejuang pergerakan nasional yang menjadi tawanan kamp tersebut.

Pembukaan Boven Digoel sebagai koloni isolasi atau pengucilan bagi pejuang agar mereka tidak lagi menyuarakan gagasan-gagasan perlawanan mereka, menjauhkan pengaruh pejuang terhadap rakyat, memutuskan kontak politik dalam dan luar negeri.

Sejarah tempo doeloe telah mengabadikan kota Boven Digoel dengan banyaknya pejuang kita yang meninggal dunia karena terserang malaria dan menderita stress berat, tapi mereka (pejuang) tidak pernah menyerah, bisa dibayangkan kengerian yang berkecamuk pada saat itu. Ini dapat terlihat dari peninggalan sebagai cagar budaya yakni rumah sakit Belanda, rumah para bestuur (pengurus), penjara bawah tanah dan makam tawanan. 

Namun ada hal yang menarik dari sekilas perjalanan tersebut yakni pelaksanaan sidang keliling PA Merauke pada hari 3-7 April 2011 yang terdiri dari 7 (tujuh) orang yakni Bahrul Maji, S.HI (Ketua Majelis), Muh. Arif, S.HI dan Adam Malik B, S.HI (masing-masing sebgai Hakim Anggota), Drs. Ahmad Siddiq, MH (Hakim mediator), di dampingi oleh Dra.Hj.Kanti Hastuti (Panitera Pengganti), Panuju Hidayat, S.HI (Jurusita Pengganti) serta Abdullah, SH., MH (Administrator) bertolak ke kota tersebut, sekitar 35 menit waktu tempuh yang dibutuhkan melalui lalu lintas udara dengan pesawat kecil sedangkan melalui darat diperkirakan 2x24 jam itupun bila cuaca cerah. 

Dengan berdasar pada anggaran Dipa tahun 2011 (perjalanan sidang), Nomor : 0731/005-04.2.01/30/2011, MAK 524119, dengan total anggaran Rp. 34.800.000,-. Untuk biaya sarana transportasi udara = 1 orang (PP) : Rp. 2.230.000,-x 7 Orang = Rp. 15.610.000, transportasi lokal selama 3 hari Rp. 300.000,- x 7 orang = Rp.2.100.000,- beserta biaya akomodasi lainnya .

Antusias masyarakat pencari keadilan nampak terlihat jelas atas kehadiran tim sebagai salah satu solusi penyelesaian perkara hukum keluarga yang selama ini dibiarkan terlantar tanpa memenuhi rasa keadilan, dan kedatangan tim sidang keliling ini bukan diinterpretasikan sebagai pencari kesalahan dari salah satu pihak yang berperkara, melainkan tim sidang keliling PA Merauke dalam hal ini Majelis Hakim yang menangani  telah berupaya menggali sejauhmana fakta-fakta hukum yang terjadi dan dapat mempengaruhi layak/tidaknya keutuhan dalam suatu rumah tangga untuk diceraikan dan atau dipertahankan.

Sebagai wujud pelayanan terhadap para pencari keadilan, tim menjalaninya secara profesional, dan sesuai hasil pendataan/penerimaan sebelumnya yang telah dilakukan oleh Admin telah terdaftar sebanyak 10 perkara (Cerai Talak = 1 dan Cerai Gugat = 9), 3 dari jumlah perkara tersebut menempuh upaya perdamaian melalui Mediasi dan persidangan dilangsungkan di Aula Kementerian Agama Kab. Boven Digoel pada tanggal 4-6 April 2011. 

Tiada kata yang pantas selain mengucapkan syukur Alhamdulillah, karena  semuanya dapat terselesaikan dengan baik, hal ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah setempat (Kementerian Agama RI Kabupaten Boven Digoel) beserta aparat kepolisian yang setia mengawal persidangan terus menjalin koordinasi demi sukses dan lancarnya sidang keliling PA Merauke ini.

Kamp Tahanan Boven Digoel (Foto Kiri)dan Tim sidang keliling PA Merauke di patung Bung Hatta (Foto Kanan)

Terlepas dari tugas yang telah diemban selama berada di kota pengasingan tersebut, tim sidang keliling menyempatkan diri untuk berwisata ke salah satu situs jaman kolonialisme Belanda yakni sel tahanan Bung Hatta yang konon beliau hanya di sel beberapa hari (tahanan transit) sebelum dialihkan ke bunker tahanan yang hanya dapat ditempuh melalui speed boat. Hal yang tak kalah menarik adalah salah satu patung Bung Hatta yang menjadi icon tersendiri bagi Kota Boven Digoel yang sedikit berdampingan dengan lokasi sel tahanan tersebut.

By : Tim IT PA Merauke

 

Pa merauke, Sidang keliling

 

 

Tinggalkan Komentar

 

 

 

Statistik Pengunjung

6 3 9 5 2
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Kemarin
Bulan Ini
Bulan Kemarin
Total
36
83
63952
0
8847
5490
63952
IP Anda : 54.145.17.37
2018-11-20 10:23